Masih?
Ketika ia masih jauh,
bukan kah dirimu berharap tuk dekat dan menghampirinya?
Ketika ia masih tak tampak,
bukan kah dirimu berharap tuk segera melihat dan menemuinya?
Ketika ia masih tak dapat digapai,
bukankah dirimu berharap tuk segera merasakan keindahan bersamanya?
.
Tapi.. ah sudahlaah..
kita semua manusia,
yg secara naluriah hanya mampu merasa "penasaran" sebelum menggapainya.
Ketika sudah tercapai maka semua acuh tak acuh, bahkan menyiakannya....
Dan.. lagi..kita hanya manusia.
Yang hanya mampu bersedih dengan kehilangan, meski sadar telah mengabaikannya.
.
Jawab dgn jjur wahai hati-hati dari sekalian yang mengaku hamba,
Manakah yang lebih kehilangan ,
kita yang masih mampu berdiri menegakkan takbir, mengaku kembali fitri, namun tak berarti .
Atau, justru mereka yang telah kembali ke haribaan ilahi?
Bukankah selama ini kita justru hanya menangisi kehilangan dalam bentuk zahir?
Tapi kita lupa menangisi secara bathiniyah kepada diri sendiri.
.
Bukankah dalam kesia-siaan diiringi kehampaan, lebih menyakitkan?
Bak seonggok daging yang berjalan
Tapi kita selalu memikirkan daging-daging yang telah tertanam,
padahal jelas sudah mereka hanya berpindah alam tuk bermanja dengan Sang Pencipta
.
Lantas masihkah kita sama hari ini?
Sekedar merasa kehilangan kehadiran fisik mereka, tapi lupa menghadirkan muhasabah di penghujung waktu yang dinantikan?
.
Atau mungkin masihkah kita hanya mengembalikan pengulangan-pengulangan itu? berharap, merindu, menggapai, dan menyiakannya lagi.
SAMPAI KAPAN?
SEBERAPA YAKIN KITA AKAN MENEMUINYA KEMBALI DI TAHUN DEPAN?
.
ADAKAH JAMINAN, ANTARA RAMADHAN ATAU JUSTRU IZRAIL YANG LEBIH DULU MENGHAMPIRI KITA? .
(ZMR)
Jambi, 1 mei 2022
29 ramadhan 1433
#Muhasabah time
Comments
Post a Comment